Empat Tahun Sebelas Bulan
Halo,
Namuku Tiara. Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Usiaku menginjak 22
tahun bulan depan. Aku memulai dunia perkuliahan pada tahun ajaran 2014-2015 di
FKIP Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Jambi. Aku adalah salah satu mahasiswa
yang sangat berambisi dan cukup kompetitif diantara teman-temanku, tak heran
kenapa aku jarang keluyuran di awal semester. Waktu itu ambisiku adalah lulus
dengan cepat dan mendapatkan IPK cumlaude. Ya, hanya itu ambisiku. Bagaimana
dengan realita yang terjadi ?
Realita
yang terjadi didunia kampus tidaklah sama dengan ekspektasi awal, aku berada dikelas
A Reguler dimana rata-rata teman-temanku mendapatkan peringkat 3 besar se-waktu
SMA, yang menjadikanku sangat giat belajar waktu itu. Kemampuan bahasa inggrisku
sangat lemah dibandingkan yang lain, tapi bagian positif nya ‘aku tak pernah
menyerah’. Ketika teman-teman lain jalan-jalan disore hari aku lebih memilih
kursus private dimana jaraknya sekitar 35 menit dari kos-kosan. Waktu itu aku
sungguh menikmati proses yang melelahkan itu. Sampai pada semester 5, semangat
mulai redup. Kekampus tak tepat waktu, dikelas mulai bosan dan kegiatan belajar
dirumah mulai jarang ditekuni. Kebiasaan tersebut berlanjut sampai kesemester
8. Lalu bagaimana dengan ambisiku untuk lulus cepat dan IPK cumlaude ?
Kabar
baiknya, nilai kuliahku baik-baik saja. Kabar buruknya aku tak kunjung lulus di
tahun ke-empat. Beasiswa bidik misi pun otomatis terhenti. Biaya kos-kosan
harus tetap berlanjut. Rasanya beban itu bertumpuk hari demi hari, ketika yang
diharapkan orang tua tak kunjung jua ada titik terang. Tapi, ada satu hal yang
membuatku begitu kagum dengan kedua malaikatku dikampung, mereka tak pernah
bertanya ‘kapan selesai ?, kapan lulus?’ sehingga aku tak terlalu merasa
terbebani. Dengan harapan dari mereka aku mencoba menjalaninya dengan bahagia dan
dengan pikiran tenang, namun tetap aku masih berkutat dengan judul skripsi yang
tak kunjung jelas status nya.
Hingga
suatu ketika aku merasa bahwa aku akan lulus di waktu yang tepat, sudah tak
terpikir lagi lulus cepat. Kenapa diwaktu yang tepat ? karena aku sudah terlalu
lelah menerka masa depan. Setiap semester baru datang aku percaya aku akan
lulus disemester itu tapi kenyataanya tidak, dan semester baru lagi dan lagi. Lalu
kurevisi do’aku waktu itu ‘Tuhan, aku percaya aku bisa lulus, tapi aku tak tau
kapan aku serahkan saja semuanya padamu, cukup beri aku kesabaran dan keteguhan’.
Hanya itu yang membuatku yakin bahwa tuhan pasti sedang menyiapkan sesuatu yang
baik ntah ditahun keberapa. Apakah aku bersedih ? sungguh, siapa yang tak sedih
bila diposisi itu. Tapi, tak ku tunjukkan pada teman-temanku. Aku senang ketika
bisa meyakinkan teman-teman senasib bahwa hari ini akan berlalu, sesuatu yang
besar sedang menunggu didepan sana, tetap saja melangkah meski pelan, paling
tidak itu yang dapat dilakukan saat itu untuk terus maju.
Masih
banyak hal yang membuatku insecure salah satunya adalah stigma masyarakat
tentang lulus cepat dibandingkan lulus tepat. Bagiku lulus cepat adalah soal
lama masa studi, tapi lulus tepat adalah tentang kau percaya dengan takdir,
ketika kita mengerjakan tugas akhir itu dengan baik dan tidak asal-asalan dan
menikmati proses pendewasaan diri. Bukan berarti tepat tidak boleh cepat, tapi
ketika niat kita hanya ingin cepat keluar dari kampus maka kita melupakan bahwa
ada hal lain yang perlu dipelajari sebagai pelajaran hidup. Percayalah,
seberapa lamapun kamu dikampus, jangan pernah menyerah begitu saja. Percaya bahwa
apa yang sudah kita awali dengan senyum sumringah mahasiswa baru akan kita
akhiri juga dengan senyum sumringah yang sama dan berbisik didalam hati ‘Sekarang
sudah selesai, ayo kita mulai senyum sumringah yang lainya’.
Untuk
teman-teman yang masih berjuang diluar sana, tenanglah, kau tidak sendiri. Tetap
bergerak. Semuanya akan selesai tepat pada waktu yang ditetapkan. Salam dari
saya mahasiswi dengan masa studi 4 tahun 11 bulan.

Comments
Post a Comment