Umbu kelahiran papua

Pagi-pagi sekali saya berencana untuk pergi ke kantor BRI terdekat, karena ATM saya hilang ntah kemana.
Setelah bersiap-siap dan sarapan gado-gado di warung tepi jalan, saya mengegas motor saya melaju ke kantor BRI terdekat, tepatnya BRI yang didekat Jamtos (Jambi Town Square).
Disana saya memarkir kan motor dibantu oleh tukang parkir yang berjaga di sekitaran halaman kantor tersebut. Saya masuk dan bertemu dengan security yang berjaga didepan. "Maaf mbak, Ada yang bisa saya bantu ?" Kata pak satpam dengan sopan. "Iya Pak, saya kehilangan kartu ATM saya dan membawa Surat kehilangan dari polsek, kira-kira bisa diproses ga kartu ATM nya ?" Saya sedikit memelas. "Maaf mbak, untuk mengganti kartunya hanya bisa dilakukan di kantor pusat yang didekat RS. Theresia" kata pak satpam.
Saya sedikit kecewa karena sudah dua kali kesana tapi ditolak. Singkat cerita saya langung saja meluncur ke Kantor BRI pusat berharap semua nya bisa selesai dengan cepat karena saya berencana untuk pergi ke perpustakaan wilayah pagi itu.
Sesampainya disana saya melihat banyak motor terparkir, "wah akan ngantri lama nih" kata saya didalam hati.
Saya masuk dan bertemu dengan Pak satpam menyampaikan maksud dan tujuan saya kesana, saya mengambil nomer antrian dan tidak terlalu kaget melihat nomer antriannya karena nomer saya adalah B 035 "tidak terlalu buruk" pikir saya. Saya duduk di kursi nomer 3 dari depan disebelah saya satu kursi kosong dan ada seorang wanita disebelah kursi kosong tersebut.
Dengan menghilangkan kebosanan saya mulai menulis fiksi mini yang telah saya pelajari dari seminar yang saya ikuti beberapa Hari yang lalu. Sampai akhirnya saya selesai dan melihat ada bocah laki-laki didepan saya. Berkulit putih, matanya sipit dia anak yang lucu. Ketika dia melihat saya, saya tersenyum dan menyapa " hello, namanya siapa?" Saya bertanya. Namun dia tidak menjawab hanya tertawa dan tersenyum, kondisi bocah ini dalam keadaan flu dan air liur yang mengalir sesekali waktu. Saya berfikir "mungkin adek ini terkena suatu syndrome" tapi saya tidak bereaksi berlebihan karena saya memiliki teman yang adiknya memiliki gejala yang serupa. Adik ini kira-kira umur nya Lima tahun tapi belum bisa bicara. Kata ibunya, "dia mengerti kok dek, cuma belum bisa jawab". Saya melihat aura bersemangat dari sang ibu untuk bercerita tentang anaknya karena saya sangat bersimpati dengan adik ini. Lantas saya tanyakan namanya "siapa namanya buk ? Kata saya bersemngat. "Namanya Umbu dek, dia lahir dipapua justru itu saya menamai nya Umbu" ujar ibu yang duduk didepan saya. "Wah nama yang bgus buk, unik" kata saya. Lalu ibu Umbu mulai bercerita bahwa Umbu dilahirkan di Papua, Suami ibuk berasal dari Jakarta dan ibuk itu sendiri dari Palembang. keluarga mereka sering keliling Indonesia karena suami ibuk adalah seorang arsitek tapi si ibuk tidak mau jika suaminya dipanggil arsitek dia menyebut suaminya itu sebagai tukang kuli. Mendengar cerita si ibuk saya sangat penasaran dengan cerita mereka keliling Indonesia, saya sangat senang mendengar orang lain bercerita tentang perjalanan mereka. Bagaimana dan ada apa diluar sana. Hari ini saya bertemu Umbu adik yang lucu dan menggemaskan dan sang ibu yang luar biasa. Ingin rasanya bertemu lagi dengan Umbu dan ibunya bercerita lebih panjang lagi, tapi sayangnya nomor antrian bu Umbu lebih cepat dari saya jadi dia pulang lebih awal sebelum sempat menanyakan nama ibunya Umbu.

25 Juni 2019

Comments

Popular Posts